Dinasti Bani Buaih, Bani Saljuk, dan Bani Fathimiyah

Sunday, March 9, 2014

|


Nama: Bagus Fatoni
Semester 4 (empat)
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) HASANUDDIN
PARE KEDIRI

DINASTI BANI BUWAIH

A.      Kronologi Kedatangan Bani Buwaih

Masa pemerintahan ini yaitu periode ketiga dari pemerintahan bani Abbas , dimana kekhilafahannya dikuasai  oleh bani Buwaih  sejak 334 -447 H/945-1055 kehadiran bani Buwaih berawal dari tiga orang putera Abu Syuja' Buwaih, seorang pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rezeki ( Yatim, Badri.2006), sehingga sebagian besar ahli sejarah Islam merangkai awal dari kemunculan bani Buwaih  dala paggung sejarah bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali bin Ahmad dalam psukan Makan Ibn Kali dari dinasti Saman, tetapi kamudian berpinadah ke kubu Mardawij . Ketika Mardawij  tebunuh pada tahun 943 ,Ali sudah menjadi penguaa Isfahan dan sedang berusaha menjadi  penguasa yang andiri. Kira-kira dua tahun kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jendral Tuzun, penguasa sebenarnya atas Baghdad, Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan  Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah. Gelar  mu’izz al- Daulah (yang memuliakan Negara) diperolehnya dari khalifah. Ia memerintah Baghdad selama leih dari 24 tahun, sementara kedua saudaranya menguasai bagian kerajaan sebelah timur.( watt, di dalam Maryam siti. 2009)
Sebenarnya keturunan Bani Buwaih adalah  keturunan kaum Syi’ah , dan bukan keturunan Bani Abbas secara langsung pada saat itu. Melihat kekuasaan Bani abbas yang semakin melemah di dalam bidang pemerinahan atau perpolitikan yang mngakibatkan timbilnya keinginan dari daulat-daulat kecil yang ada di bawah kekuasaan Baghdad. Kesempatan ini tidak kalah pentingnya bagi Ali sebagai pemimpin Bani Buwaih sehingga langkah awal yang dilakukan yaitu mulai menakkan di daerah-daerah Persia menjadikan Syiraz sebagi pusat pemerintahan. Ketika Mardawij  meninggal, Bani Buwaih yang bermarkaz di Syiraz itu berhasil menalukkan beberapa daerah di Persia seperti Rayy, Isfahan, dab daerah-daerah Jabal. Ali berusaha mendapat legalisasi dari Khlifah abbasiyah Al- Radhi Billah, dan mengirimkan sejumlah uang untuk pembendaharaan Negara.Ia berhasil mendapat legalitas itu. Kemudian, melakukan ekspasi ke Irak, Ahwaz, dan  Wasith. Dari sini tetara Buwaih menuju Baghdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan .ketika itu ,Baghdad  dilanda kekisruhan politik, akibat perebutan jabatan Amir Al Umara’ antara wazir dan pemimpin miiter. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad Ibnu Buwaih yang berkedudukan di Akhwaz permintaan itu dikabulkan, Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal 11 jumadil ula (334 H/945M). (Al Isy ,Yusuf.1968)
B.       Orang-Orang Bani Buwaih
Seperti yang telah disebutkan diatas Bani Buwaih bermahzab Syiah sehingga mereka patut menjadikan seorang khalifah dari syiah zaidiyah, akan tetapi mereka menerima kailafah Abbasiah.
Dengan hal itulah Ahmad bin Buwaih menghindari penunjukan kalangan keluarga Ali sebagai Khalifah. Padahal pada awalnya rakyat Irak telah menerima Abbasiyah sebagai khilafah yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka, atau jabatan khalifah adalah jabatan yang bersifat mutlak di dalam agama yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat,dan inilah alasan untuk memnerima bani Abbasiyah menjadi khilafah pada masa itu.
Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.(Al- Isy, Yusuf.1968)
C.  Keadaan Politik Pada Masa Bani Buwaih
Di dalam masalah politik yang berperan penting hanya bani buwaih yang memegang jabatan penting pada Amir Al umara’,sehingga orang-orang bani Buwaih menetapkan orang-orang Abbasiyah dalam pemerintahan, namun tidak memberikian kekuasaan .Mereka melarang khalifah memperoleh pendapatan untuk kemudian mereka ambil sendiriu.Mereka ,membuat pasukan khusus untuk khlifah yang berjumlah lima ribu dirham sehari. Hal tersebut terjadi dimasa Almustakfa.( Al-Isy Yusuf,1968).
Sejak saat itu para khalifah tunduk kepada Bani Buwaih, sehingga para khalifah Abbasiyah benar-benar tinggal nama saja. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amir Bani Buwaih.

D.  Kemunduran Bani Buwaih
            Kekuatan politik Bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama (tiga bersaudara) kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa berhak atas kekuasaan pusat.  Misalnya, pertikaian antara ‘Izz Al-Daulah Bakhtiar, putera Mu’izz Al-daulah dan ‘Adhad Al-Daulah, putera Imad Al-daulah, dalam perebutan jabatan amir al-umara. Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Bani Buwaih ini merupakan salah satu faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka. Faktor internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer, antara golongan yang berassal dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika amir al-umara dijabat oleh Mu’izz Al-Daulah persoalan itu dapat diatasi, tetapi manakala jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, masalah tersebut muncul kepermukaan, mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.


Sumber:










MASA KEKUASAAN BANI SALJUK

A.     Asal Usul bangsa Saljuk
Nama dinasti Saljuk diambil dari sebuah nama seorang tokoh yang berasal dari keturunan Turki yaitu Saljuk bin Tuqaq.berasal dari kabilah kecil keturunan Turki, yakni kabilah Qunuq. Kabilah ini bersama dua puluh kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Ghuz. Semula gabungan kabilah ini tidak memiliki nama, hingga muncullah tokoh Saljuk putra Tuqaq yang mempersatukan mereka dengan memberi nama suku Saljuk.
Saljuk dikenal sebagai seorang orator ulung dan dermawan oleh kerena itu ia disukai dan taati oleh masyarakat, dilain pihak istri raja Turki khawatir jika saljuk melakukan pemberontakan, karenanya ada rencana untuk membunuh saljuk secara licik, dan saljuk sendiri mengetahui rencana jahat tersebut lalu ia mengumpulkan pasukannya dan membawa mereka ke kota Janad, mereka  tinggal disana dan bertetangga dengan kaum muslimin di negeri Turkistan, maka ketika saljuk melihat prilaku orang Islam yang baik dan berakhalaq luhur ia akhirnya memeluk agama Islam dan kabilah Ghuzpun akhirnya memeluk Islam. Dan sejak itulah saljuk mulai melakukan perlawanan dan peperangan melawan orang-orang Turki yang kafir, akhrinya iapun mampu mengusir bawahan raja Turki dan menghapus pajak atas kaum muslimin.
Dalam kajian historis para sejarawan menyebutkan bahwa suku Saljuk  memeluk agama Islam pada sekitar akhir abad ke-4 H/ 10 M, dengan barmazhab Sunni.

B.    Silsilah Nasab Dinasti Salju
Silsilah kelurga Dinasti Saljuk bisa perinci sebagai berikut ;
1.       Saljuk Ibnu Tuqaq memiliki dua orang putra yaitu Mikail dan Arselan Payghu namun dalam leteratur lain disebutkan bahwa Saljuk memiliki empat orang anak yaitu Arselan, Mikail, Musa dan Yunus.
2.      Mikail memiliki dua orang putra yaitu Chager Bek Daud dan Tughril Bek
3.       Chager Bek Daud memiliki dua orang putra yaitu Alp Arselan dan Kaward,
4.      Alp Arselan memiliki dua orang putra yaitu  Malik Syah dan Tutush,
5.       Malik Syah memiliki empat orang putra yaitu Bargiyaruk, Muhammad, dan Sinyar serta Mahmud.


C.    Awal Mula Kemunculan Dinasti Saljuk
Diatas telah dijelaskan bahwa Saljuk dan orang-orang yang setia kepadanya menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke arah Barat, yaitu daerah Jundi (jand), suatu daerah yang merupakan bagian dari Asia Kecil yang dikuasai oleh dinasti Samaniyah yang dipimpin oleh Amir Abd al-Malik Ibn Nuh (954-961 M)
Tempat tinggal bangsa Saljuk ini berdekatan dengan kaum Samaniyah dan Ghaznah yang merupakan dua Dinasti yang saling bersitegang, dan terkadang  terjadi pertikaian atau peperangan diantara mereka. Kondisi ini memberi ruang kosong bagi kaum Saljuk untuk menunjukan eksistensinya dengan cara memberikan tendensinya kepada salah satu dari dua dinasti yang sedang berseteru tersebut, yaitu kepada Dinasti Samaniyah, dan sebagai imbalanya Dinasti samaniyah memberikan keleluasaan bagi kaum saljuk untuk bertempat berdekatan dengan Sihun.
Pada tahun 389 H, dinasti Samaniyah mengalami kemundurun yang signifikan maka disaaat itu kaum Saljuk berada digarda terdepan dalam meneruskan perlawanan terhadap dinasti Ghaznah. Sepeninggal Saljuk kepemimpinan diteruskan oleh putranya yang bernama Arselan, namun kepemimpinan Arselan berakhir atas kelicikan Sultan Mahmud seorang pemimpin dinasri Ghaznah yang berpura pura baik dan kemudian menangkap dan memenjarakan Arselan. Selanjutnya tampuk kepemimpinan diambil alih oleh Mikael yang merupakan saudara Arselan. Namun nasib Mikael sama dengan yang dialami oleh kakaknya yaitu terpedaya oleh kelicikan sikap Sultan Mahmud yang pada tahun 418 H Sulatan Mahmud menyerang dan memporakporanakan kaum Saljuk yang berujung pada kematian Mikael.
Mikael mempunyai dua orang putra yang selanjutnya menjadi penerus kepemimpinan kaum Saljuk dan sekaligus penggagas berdirinya dinasti Saljukiyah, yaitu Jughril Bek  dan Tughril Bek.
Sepeninggal Sultan Mahmud dinasti Ghaznah mengalami kemunduran, karena Mas’ud yang menjadi penerusnya tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk menjadi pemimpin Negara. Dilain sisi kaum Saljuk terus merong-rong dinasti Ghaznah yang mulai rapuh yang pada akhirnya usaha mereka membuahkan hasil dengan tewasnya Mas’ud putra Sultan Mahmud dan mundurnya kaum Ghaznah meninggalkan Khurasan menuju India dalam sebuah pertempuran pada tahun 429 H, maka ketika itu juga Tughril bek mengumumkan pendirian dinasti Saljuk,
Mereka mampu merebut Marw dan Naisabur dari genggaman kekuasaan Ghaznah, kemudian mereka juga merebut Balkh, Jurjan, Thabaristan, khawarizm, Hamadhan, Rayyi, dan Isfahan serta pemerintah Buwaihi tunduk di bawah kendali mereka.
Pada masa pemerintahan Saljuk ini, mereka menguasai dan memerintah di Baghdad selama sekitar 93 tahun yaitu dari tahun 429 H/1037 M hingga tahun 522 H/1127 M.[1]
Pencapaian gemilang yang dilakukan oleh pemerintahan Tughril Bek adalah menguasai Baghdad dan mengakhiri Dinasti Buwaihi yang pada saat itu dipimpin oleh al-Malik al-Rahim dengan panglima tentaranya yaitu al-Basasiri, serta menguasai beberapa wilayah yang telah disebutkan sebelumnya. Atas dasar kegemilangan Tughril Bek inilah kemudian dia mendapatkan dua gelar kehormatan, yaitu :
1.        Yamin Amir al-Mu'minin, gelar ini diperoleh karena menumpas Bani Buwaih di Baghdad,
2.        Malik al-Syarqi al-Gharb, gelar ini diperoleh karena menewaskan al-Basasiri dan mengembalikan kekuasaan Khalifah al-Qa'im.

D.  Periode Keemasan Dinasti Saljuk (1063-1072 M)
Setelah Tughril Bek meninggal, kepemipinan diteruskan oleh Alp Arselan keponakan dari Tughril Bek, karena ia tidak mempunyai seorang putra, Dia memerintah sejak tahun 1063 hingga 1072 M.
Perluasan daerah yang sudah dimulai pada kepemimpinan Thugrul Bek dilanjutkan oleh Alp Arselan ke arah Barat sampai pusat kebudayaan Romawi di Asia kecil, yaitu Bizantium.
Dalam gerakan ekspansi itu tedapat peristiwa penting yaitu yang dikenal dengan peristiwa Manzikar 463, dimana Tentara Alp Arselan berhasil mengalahkan kekuatan besar tentara Romawi yang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Prancis dan Armenia. Dan dikuasainya Manzikar pada tahun 463[2]. Peristiwa ini yang dinilai banyak sejarawan mempunyai pengaruh besar terhadap rentetan sejarah peperangan besar antara kaum Islam dengan kaum Nasrani.
Pada pereode inilah dinasti Saljuk mencapai masa kejayaannya, wilayah kekuasaannya membentang mulai dari Kasgar, satu kota di ujung wilayah Turki, sampai ke Yerusalem dan luasnya dari wilayah Contantinopel sampai ke laut Kaspia. Atas dasar ini dinasti Saljuk dikenal gemar melakukan ekspansi perluasan wilayah yang sangat luas, seperti halnya penguasa Turki Usmani yang berhasil mendirikan sebuah imperium besar pada abad ke-14 M.
E.   Sikap Saljuk Terhadap Imperium Abbasiyah
Dinasti Saljuk memiliki hubungan baik dengan khalifah Abbasiyah yang berbeda halnya dengan dinasti Buwaih, hal ini disebabkan kesamaan dalam mazhab, yaitu sama-sama berpegang kepada mazhab Sunni. Dengan berpegan kepada mazhab tersebut, memudahkan kerja sama di antara kedua belah pihak dan mendorong kaum Saljuk itu menyanjung dan menghormati dengan setinggi-tingginya kepada khalifah Abbasiyah. Disamping itu Bani Buhaih adalah kaum yang bersifat kasar dan ganas, sementara kaum Saljuk tidak demikian. Saljuk selalu bersikap hormat, sopan, berlaku baik dan lembut sebagaimana tercermin dari ucapan Tughrul Bek ketika menghadap khalifah; “aku pelayan Amirul Mu’minin, bertindak atas perintah dan larangannya, berbuat sesuai mandatnya. Hanya kepada Allah aku meminta pertolongan dan taufik”
Kedekatan antara bani Saljuk dan imperium Abbasiyah semakin erat ketika al-Qaim menikahi khadijah yang merupakan keponakan Tughrul Bek, sementara Tughrul Bek menikahi putri al-Qaim pada tahun 454 H/1062 M.
Dari paparan diatas memberikan pemahaman bahwa posisi Dinasti Saljuk memiliki pengaruh dan kedekatan emosional kepada Imperium Abbasiyah yang dalam realitas politik ketika itu tidak dapat dipungkiri bahwa Dinasti Saljuk memberikan pengaruh dan sumbangan besar terhadap imperium Abbasiyah.
F.      Kemajuan Pada Dinasti Saljuk
1. Perkembangan Politik
Pada masa Dinasti Saljuk tepatnya pada kepemimpinan Alp Arslan, wazir Nizam al-Muluk memiliki pengaruh positif kepada Dinasti Saljuk yaitu dengan memberikan ide-ide segar dalam mengubah dasar-dasar pemerintah, diantaranya adalah:
a.         Menciptakan satu angkatan tentara Saljuk yang kuat.
b.        Mempererat hubungan antara khalifah Abbasiyah al-Qa'im dengan kerajaan Dinasti Saljuk.
c.         Berpartisipasi dalam pelantikan Malik Syah sebagai penerus Alp Arslan.
2. Perkembanga pendidikan
Berkembangnya ilmu pengetahuan dengan melahirkan beberapa ilmuan muslim yang lahir pada masa ini, antara lain: al-Zamakhsyari sebagai tokoh dalam bidang teologi dan tafsir, al-Qusyairi sebagai ahli tafsir, imam al-Ghazali sebagai tokoh dalam bidang teologi, filsafat dan tasawuf, Farid al-Addin al-Athar dan Umar Khayyam sebagai tokoh dalam bidang sastra.
Bahkan kemajuan pendidikan pada Dinasti Saljuk sudah  menyentuh dalam bidang Iptek, pada tahun 1075 M, Maliksyah menyelenggarakan sebuah konferensi yang menghadirkan pakar-pakar bidang astronomi. Konferensi ini memberi mandat kepada Nizam al-Muluk untuk memperbaharui kalender Persi berdasarkan hasil observasi mutakhir yang lebih terpercaya. Dengan  menghasikan kalender Jalali.
Selain itu Dinasti Saljuk mendirikan sejumlah lembaga pendidikan, diantaranya madrasah Niz}amiyah di Baghdad, Balkh, Naisabur, Jarat, Ashfahan, Basrah, Marw, Mausul, dan lain sebagainya. madrasah Niz{amiyah didirikan dengan tujun: pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Syiah, kedua, menyediakan guru guru Sunni yang cukup untuk untuk mengajarkan faham Sunni dan menyebarkanya ke tempat lain, ketiga, membentuk kelompok pekerja Sunni untu berpastisipasi dalam menjalankan pemerintahan khususnya dibidang peradilan dan manajemen. Dan diantara alumninya adalah Imam Ghazali.
3. Perkembangan infrastruktur
Kontribusi Dinasti Saljuk dalam bidang arsitektur begitu besar. Dan  Malik Syah terkenal dengan usaha pembangunan separti masjid, jembatan, irigasi, jalan raya dan rumah sakit.

G.  Keruntuhan Dinasti Saljuk
Sepeninggal Sultan Malik Syah, kepemimpinan diteruskan oleh anaknya yaitu Barkiaruq, pada masa ini dinasti Saljuk mulai mengalami kemunduran. Terdapat beberapa factor yang melatar belakangi kemunduran pemerintahan adapun faktor yang menjadi sebab runtuhnya dinasti saljuk adalah sebagai berikut:
1.      Konflik internal antara saudara, paman dan anak- anak yang memperebutkan tonggak kepemimpnan.
2.      Lemahnya para khalifah Abbasiyah untuk andil dalam dinasti Saljuk, sehingga kekhalifahan tidak mampu menolak atau mengarahkan siapa saja yang akan duduk dikursi kesultanan Saljuk.
3.      Ketidak mampuan pemerintah Saljuk dalam menyatukan wilayah Syam, Mesir dan Irak di bawah panji kekuasaan bani Saljuk
4.      Terjadi gesekan besar dalam kekuasaan Saljuk sehingga menimbulan bentrokan militer yang terus menerus
5.      Konspirasi orang-orang aliran Bathiniyah terhadap kesultanan Saljuk dan juga membunuh para Sultan dan beberapa komandanya.


Sumber:














DINASTI FATIHIMIYAH

A.  Fase Berdirinya Dinasti Fathimiyah
Dinasti Fathimiyah berdiri pada tahun 297 H/910 M, dan berakhir pada 567 H/1171 M yang pada awalnya hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berkedudukan di Afrika Utara, dan kemudian berpindah ke Mesir[3]. Dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad SAW dan sekaligus istri Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu. Dan juga dinasti ini mengklaim dirinya sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Zahra binti Rasulullah SAW. Namun masalah nasab keturunan Fathimiyah ini masih dan terus menjadi perdebatan antara para sejarawan. Dari dulu hingga sekarang belum ada kata kesepakatan diantara para sejarawan mengenai nasab keturunan ini, hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya ;
1.    Pergolakan politik dan madzhab yang sangat kuat sejak wafatnya Rasulullah SAW.
2.    Ketidakberanian dan keengganan keturunan Fatimiyah ini untuk mengiklankan nasab mereka, karena takut kepada penguasa, ditambah lagi penyembunyian nama-nama para pemimpin mereka sejak Muhammad bin Ismail hingga Ubaidillah al Mahdi.
Dinasti Fatimiyah beraliran syiah Ismailiyah dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al Salamiyah yang bergelar Ubaidillah al Mahdi. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan.
Pada awalnya, Syiah Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas, baru pada masa Abdullah bin Maimun yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah.
Silsilah Kekhalifaan Fatimiyah
Al-Mahdi (909-934)
Al-Qa’im (934-946)
Al-Manshur (946-952)
Al-Mu’izz (952-975)
Al-Aziz (975-996)
Al-Hakim (996-1021)
Al-Zhahir (1021-1035)
Al-Mustanshir (1035-1094)
Al-Musta’li (1094-1101)
Al-Amir (1101-1130)
Al-Hafizth (1130-1149)
Al-Zafir (1149-1154)
Al-Fa’iz (1154-1160)
Al-Adhid (1160-1171)

B.  Perkembanganan Kemajuan Dinasti Fathimiyah
Pada masa pemerintahan Fatimiyah, persoalan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Agama dipandang sebagai pilar utama dalam menegakkan daulah/negara. Untuk itu, pemerintah Fatimiyah sangat memperhatikan masalah keberagamaan masyarakat meskipun mereka berstatus sebagai warga negara kelas dua seperti orang Yahudi, Nasrani, Turki, Sudan.
Menurut K.Ali, mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat, bahkan penuh perhatian terhadap urusan agama non muslim sehingga orang-orang Kristen Kopti Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan selain dari pemerintahan Muslim. Banyak orang Kristen, seperti al-Barmaki, yang diangkat jadi pejabat pemerintah dan rumah ibadah mereka dipugar oleh pemerintah.
Akan tetapi, Kemurahan hati yang ditampilkan Khalifah Fatimiyah terhadap orang Kristen tidak urung menimbulkan isu negatif. Al-Mu’iz yang dikenal dengan kewarakan dan ketaqwaannya diisukan telah murtad, mati sebagai orang Kristen dan dikubur di gereja Abu Siffin di Mesir kuno. Namun, menurut Hasan, isu tersebut tidak benar sebab tidak ada sejarawan yang menyebutkan seperti itu, dan hanya cerita karangan (Khurafat) yang sengaja dienduskan oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya termasuk dari sisa-sisa penguasa Abbasiyah yang sengaja ingin melemahkan kekuatan Fatimiyah.
Sementara itu, agama yang didakwahkan Fatimiyah adalah ajaran Islam, menurut pemahaman Syi’ah Islamiyah yang ditetapkan sebagai mazhab negara. Untuk itu, para missionaris daulah Fatimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran tersebut dan berhasil meraih pengikut yang banyak sehingga masa kekuasaan daulah Fatimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan mazhab Islamiyah.
Meskipun para Khalifah berjiwa moderat, akan tetapi terhadap orang yang tidak mau mengakui ajaran Syi’ah Islamiyah langsung dihukum bunuh. Pada tahun 391 H khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan/fadhilah Ali bin Abi Thalib, dan di tahun 395 H, al-Hakim juga memerintahkan agar di mesjid, pasar dan jalan-jalan ditempelkan tulisan yang mencela para sahabat.
Jelasnya peranan agama sangat diperhatikan sekali oleh penguasa untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Buktinya, sikap tegas khalifah Fatimiyah terhadap orang yang tidak mau mengakui mazhab Isma’iliyah dapat berupa apabila sikap seperti dapat berakibat munculnya instabilitas negara. Al-Hakim misalnya, agar terjalin hubungan yang baik dengan rakyatnya yang berpaham sunni, al-Hakim mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela sahabat khususnya khalifah Abu Bakar dan Umar. Al-Hakim juga membangun sebuah madrasah yang khusus mengajarkan paham sunni, memberikan bantuan buku-buku bermutu sehingga warga Syi’ah ketika merasa senang sebab merasakan tengah hidup dikawasan sunni.
Dalam bidang administrasi pemerintahan tidak banyak berubah. Sistem administrasi yang dikembangkan khalifah Abbasiyah masih terus saja dipraktekkan. Khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan keduniaan maupun dalam urusan spritual. Ia berwenang mengangkat sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di bawahnya.
Pengelolaan negara yang dilakukan Dinasti Fatimiyah ialah dengan mengangkat para menteri. Dinasti Fatimiyah membagi kementrian menjadi dua kelompok. Pertama kelompok militer yang terdiri dari tiga jabatan pokok

ð   Pejabat militer dan pengawal khalifah
ð   Petugas keamanan
ð   Resimen-resimen
Kemudian kelompk sipil yang terdiri atas:
ð   Qadhi (Hakim dan direktur percetakan uang)
ð   Ketua Dakwah yang memimpin pengajian
ð   Inspektur pasar (pengawas pasar, jalan, timbangan dan takaran)
ð   Bendaharawan negara (menangani Bait Maal)
ð   Kepala urusan rumah tangga raja
ð   Petugas pembaca Al Qur'an, dan
ð   Sekretaris berbagai Departemen

Selain pejabat pusat, disetiap daerah terdapat pejabat setingkat guberbur yang diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi dikelola oleh pejabat setempat.
C.  Puncak Kejayaan Dinasti Fathimiyah
Sepanjang kekuasaan Abu Mansyur Nizar al-Aziz (975-996), Kerajaan Mesir Senantiasa diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Dibawah kekuasaannyalah dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khalifah selalu disebutkan dalam khutbah-khutbah jum’at disepanjang wilayah kekuasaanya yang berbentang dari Atlantik hingga laut Merah, juga di mesjid-mesjid Yaman, Mekkah, Damaskus, Bahkan di Mosul. Kalau dihitung-hitung, kekuasannya meliputi wilayah yang sangat luas.
Di bawah kekuasaannya kekhalifahan Mesir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifaan di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifaan itu telah menenggelamkan penguasa Baghdad dan ia berhasil menempatkan kekhalifaan Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Meditera Timur. Al-Aziz menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah, musuhnya yang diharapkan akan dikuasai setelah Baghdad berhasil ditaklukkan. Seperti pendahulunya ia melirik wilayah Spanyol, tetapi khalifah Kordova yang percaya diri itu ketika menerima surat yang pedas dari raja Fatimiyah memberikan balasan tegas dengan berkata, “Engkau meremehkan kami karena kau telah mendengar tentang kami. Jika kami mendengar apa yang telah dan akan kau lakukan kami akan membalasnya”.
Menurut Harun Nasution, dalam masa kejayaan ini tergores sejarah yang menunjukkan kegemilangan Fatimiyah bahwa salah satu golongan sekte syiah yang bernama Qaramithah (Carmatian) yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qarmat di akhir abad IX, menyerang Makkah pada tahun 951 M dan merampas Hajar Aswad dengan mencurinya selama dua puluh tahun. Hal ini disebabkan mereka meyakini bahwa hajar aswad adalah merupakan sumber takahayul. Gerakan ini menentang pemerintahan Pusat Bani Abbas, namun Hajar Aswad ini akhirnya dikembalikan oleh Bani Fathimiyah setelah didesak oleh kalifah Al Mansur pada tahun 951 M.
D.  Masa Kemunduran dan Runtuhnya Dinasti Fathimiyah
Gejala-gejala yang menunjukkan kemunduran dinasti Fatimiyah telah terlihat dipenghujung masa pemerintahan Al-Aziz namun baru kelihatan wujudnya pada masa pemerintahan al-Muntasir yang terus berlanjut hingga berakhirnya kekuasaan adalah Fatimiyah pada masa pemerintahan al-Adid 567 H / 1171 M.
Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya daulah Fatimiyah dapat diklarifikasikan kepada faktor internal dan eksternal:
1.    Faktor Internal
Faktor internal yang paling signifikan dalam menghantarkan kemunduran daulah Fatimiyah adalah di karenakan lemahnya kekuasaan pemerintah. Menurut Ibrahim Hasan, para khalifah tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi seperti yang ditunjukkan para pendahulu mereka ketika mengalahkan tentara Berber di Qairawan. Kehidupan para khalifah yang bermewah-mewah merupakan penyebab utama hilangnya semangat untuk melakukan ekspansi.
Selain itu, para khalifah kurang cakap dan memerintah sehingga roda pemerintahan tidak bejalan secara efektif, ketidak efektifan ini dikarenakan khalifah yang diangkat banyak yang masih berusia relatif muda sehingga kurang cakap dalm mengambil kebijakan . Tragisnya mereka ibarat boneka ditangan para wajir karena peranan wajir begitu dominan dalam mengatur pemerintahan.
2.    Faktor Eksternal
Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab runruhnya daulah Fatimiyah adalah menguatnya kekuasaan Nur al-Din al-Zanki di Mesir. Nur al-Zanki adalah Gubernur Syiria yang masih berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Popularitas al-Zanki menonjol pada saat ia mampu mengalahkan pasukan salib atas permohonan khalifah al-Zafir yang tidak mampu mengalahkan tentara salib.
Dikarenakan rasa cemburunya kepada Syirkuh yang memiliki pengaruh kuat di istana dianggap sebagai saingan yang akan merebut kekuasaannya sebagai wazir, syawar melakukan perlawanan. Agar mampu menguat kekuasannya, Syawar meminta bantuan tentara Salabiyah dan menawarkan janji seperti yang dilakukannya terhadap Nural-Din.
Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang salib dan melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk dapat menaklukkan Mesir. Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib.Syawar sendiri dapat ditangkap dan dihukum bunuh dengan memenggal kepalanya atas perintah khalifah Fatimiyah.
Dengan kemenangan ini, maka Syirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun 565 H / 1117 M. setelah Syirkuh wafat, jabatan wazir diserahkan kepada Salah al-Din Ayyubi. Selanjutnya Salah al-Din mengambil kekuasaan sebagai khalifah setelah al-Adid wafat. Dengan berkuasanya Salah al-Din, maka diumumkan bahwa kekuasaan daulah Fatimiyah berakhir. Dan membentuk dinasti Ayyubiyah serta merubah orientasinya dari paham syi’ah ke sunni.
Khalifah Fatimiyah berakhir pada tahun 567 H / 1117 M. Untuk mengantipasi perlawanan dari kalangan Fatimiyah, Salah al-Din membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer. Yang kini bangunan benteng tersebut masih berdiri kokoh di kawasan pusat Mishral qadim (Mesir lama) yang terletak tidak jauh dari Universitas dan juga dekat dengan perumahan Mahasiswa Asia di Qatamiyah.




Sumber:
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/05/dinasti-fathimiyah.html




0 komentar:

Post a Comment

™Welcome to Bagu's08 Blog, Now Is Time To Be Smart™

Followers

Powered by Blogger.

Google+ Followers

Bagus

Bagus

Google+ Badge