Perbandingan Pendidikan DI Irak

Tuesday, March 10, 2015

|

BAB I
PENDAHULUAN

         Secara geografis Irak termasuk salah satu negara Islam dikawasan Timur  Tengah. Sebelah Timur berbatasan dengan Iran, sebelah Barat berbatasan dengan Suriah dan Yordania, Sebelah utara berbatasan dengan Turki, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Arab Saudi dan Quait. Sejarah mencatat bahwa Irak merupakan slah satu negara yang kuat dikawasan Timur Tengah. Negara ini dikenal sebagai tempat awal peradaban manusia.
         Tetapi belakangan ini fakta mengatakan bahwa negara-negara Islam tertinggal jauh dengan negara selain Islam, baik itu dari segi pendidikan, ekonomi, produksi maupun kualitas sumber daya manusianya. Fenomena ini dilukiskan seorang penulis Muslim Syria yang bernama Amir Syakib Arsalan, dia menulis sebuah buku “Limadza Ta’akhara al-Muslimun, Wa Limadza taqaddama Ghairuhum” (mengapa orang-orang Islam terbelakang dan mengapa orang-orang lain menjadi maju). Dalam buku ini dia menyimpulkan bahwasannya yang kurang dari umat islam adalah penguasaan ilmu pengeteahuan dan kualitas amal perbuatan / kerja.
          Dalam hal ini Irak adalah salah satu negara Islam yang pendidikannya hancur akibat perang antara Irak dengan AS dalam hal invasi yaitu; (1) Menghancurkan senjata pemusnah masal, (2) Menyingkirkan ancaman teroris internasional, (3) Membebaskan rakyat irak dari penindasan rezim Saddam Husein. Hal ini berdampak pada sistem pendidikan dan kemajuan pendidikan di Irak.







BAB II
PEMBAHASAN

A.  Studi Islam di Irak
         Negara Irak adalah Negara yang berbentuk Republik yang merdeka pada tahun 1958. Pada tahun 1950 negara ini berpenduduk 5.100.000 orang, 93 % penduduknya beragama Islam (4.730.000 orang) dengan rincian kaum sunni 36 % (1.850.000 orang) dan kaum syi’i 57 % (2.880.000 orang).
         Luas Negara Irak 304.000 km dengan ibukotanya Baghdad dan kota-kota termasyhur antara lain Basra, Karbela, dan Mosul. Adapun penghasilan utama di Irak adalah padi-padian, kurma, kapas, kulit, permadani, dan minyak (34.000.000 ton) menurut data tahun 1955.
          System pendidikan di Irak tidak jauh berbeda dengan system-sistem pendidikan yang ada di Negara Timur Tengah lainnya, yaitu: (a) tingkat Ibtidaiyah lamanya 6 tahun (enam kelas); (b) tingkat Mutawassitah, lamanya tiga tahun; (c) tingkat Tsanawiyah, lamanya dua tahun; dan (d) tingkat tinggi/Universitas, lamanya empat tahun. Pada tingkat Ibtidaiyah dari kelas 1 s/d kelas VI diajarkan Agama 2 jam dalam seminggu. Begitu juga tingkat Mutawassitah dan Tsanawiyah, pada tiap-tiap kelas diajarkan agama 2 jam seminggu.

B.  Fakultas Syari’ah
         Fakultas Syari’ah, mula-mula namanya madrasah Abu Hanifah, kemudian diubah menjadi Madrasah Al-Imam A’zham. Sesudah itu diubah lagi menjadi Darul Ulum Diniyah. Sekarang menjadi Fakultas Syari’ah, salah satu Fakultas dari Universitas Baghdad. Dengan demikian fakultas Syari’ah dibawah Kementerian Pengajaran, sedangkan sebelumnya berdiri sendiri dibawah Kantor Urusan Wakaf. Tujuan Fakultas Syari’ah ialah memberikan pelajaran kecerdasan yang teratur pada tingkat tinggi dalam ilmu Syari’at Islam, bahasa arab dan Kesusastraannya, sejarah Islam, sejarah agama-agama dan Ketuhanan, ilmu-ilmu kemasyarakatan dan pendidikan.
          Fakultas Syari’ah memberikan gelar ilmiah Bacalorious kepada mahasiswa yang telah lulus dalam ujian penghabisan dalam ilmu-ilmu tersebut diatas. Belajar pada Fakultas Syari’ah adalah Cuma-Cuma, tidal dipungut uang kuliah, bahkan dengan belanjanya sendiri, serta diberikan makanan, pakaian, kitab-kitab pada mahasiswa secukupnya, dan selain dari pada itu diberi pula uang saku tiap-tiap bulan. Lama pelajaran empat tahun sesudah pelajaran Tsanawiyah.

C.  Fakultas Tarbiyah
        Pada tahun 1923 M, diadakan kursus petang hari untuk guru-guru sekolah rakyat, buat mendidik mereka menjadi guru pada sekolah menengah. Kemudian diubah system ini dengan mengadakan sekolah sendiri, pelajar-pelajarnya diterima dari murid-murid keluaran sekolah menengah dan lama pelajarannya dua tahun. Tetapi sekolah itu di tutup pada tahun 1931 M. kemudian di buka kembali pada tahun 1935 M, dan lama pelajarannya diubah menjadi tiga tahun pada tahun 1937 M. sesudah itu dijadikan empat tahun  pada tahun 1939 M hingga sekarang.
         Dahulu pelajar-pelajarnya putera saja, dan pada tahun 1937 M baru mulai menerima pelajar-pelajar puteri. Pada tahun 1959 M Darul Mu’allimin al-Aliyah diubah namanya menjadi Fakultas Tarbiyah sebagai salah satu Fakultas dari Universitas Baghdad, sedang rencana pengajarannya tetap seperti sediakala. Mahasiswa yang diterima masuk Fakultas Tarbiyah ialah pelajar yang berijazah sekolah Tsanawiyah atau sederajat dengan itu. Begitu juga dapat diterima guru keluara Mu’allimin Ibtidaiyah, bila ia telah praktek mengajar sekurang-kurangnya setahun lamanya serta mendapat persetujuan dari Kementerian Pengajaran.
          Lama belajar pada Fakultas Tarbiyah empat tahun, dan mahasiswa yang lulus dalam ujian penghabisan diberi gelar Licence dalam adab atau ulum. Fakultas Tarbiyah mempunyai perpustakaan yang besar, berisi 30.000 jilid buku-buku bermacam-macam ilmu pengetahuan sesuai dengan kebutuhan Fakultas Tarbiyah terdiri dari beberapa jurusan :
  1. Jurusan Bahasa Arab.
  2. Jurusan Bahasa-Bahasa Asing.
  3. Jurusan Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan.
  4. Jurusan Ilmu-Ilmu Hayat.
  5. Jurusan Kimia.
  6. Jurusan Ilmu Pasti.
  7. Jurusan Ilmu Alam.
        Ada tiap-tiap jurusan itu diberikan ilmu pendidikan dan ilmu jiwa mulai dari tingkat II s/d tingkat IV, untuk menyiapkan mahasiswa menjadi guru pada sekolah menengah dalam mata pelajaran yang dipelajarinya pada jurusan yang dipilih.
       Lain dari pada itu ada lagi jurusan pendidikan dan ilmu jiwa, yaitu untuk Takhassus dalam ilmu pendidikan dan ilmu jiwa, lama belajarnya setahun. Tujuannya mendidik mahasiswa menjadi guru ilmu pendidikan dan ilmu jiwa pada sekolah Mu’allimin/Mu’allimat Ibtidaiyahatau menjadi pemeriksa (penilik di Indonesia) sekolah rakyat atau kepala sekolah menengah. Mahasiswa yang diterima masuk jurusan ilmu pendidikan atau ilmu jiwa itu ialah mahasiswa yang telah mendapat gelar Licence pada salah satu jurusan tersebut diatas dan telah berpengalaman praktek mengajar sekurang-kurangnya tiga tahun, serta menguasai bahasa Inggris, sehingga dapat membaca buku-buku bahasa Inggris dalam ilmu yang akan dipelajarinya sebagai sumber yang asli.

D.  Pembuatan Kurikulum Oleh ISIS
        Kelompok ekstremis Negara Islam telah menetapkan tahun ajaran baru mulai 9 September lalu di sejumlah wilayah di Irak dan Suriah yang mereka kuasai, dan melarang keras semua lagu kebangsaan dan lagu wajib nasional yang mengajarkan patriotisme.
        Di Raqqa, Suriah, kelompok yang juga dikenal sebagai ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) itu menerapkan kurikulum baru dengan menghapus beberapa pelajaran seperti filsafat dan kimia, serta memodifikasi pelajaran sains agar sesuai dengan ideologi mereka.
         Di Mosul, sekolah-sekolah dipaksa menerapkan aturan baru yang tercantum dalam buletin dua halaman dan ditempel di masjid, pasar atau tiang listrik. Buletin tertanggal 5 September itu berbunyi antara lain: “kabar baik tentang terbentuknya Dewan Pendidikan Negara Islam oleh sang kalifah yang bertekad memberantas kebodohan dan menyebarkan sains religi untuk melawan kurikulum yang telah usang."
        Kurikulum di Mosul ini diduga dibuat sendiri oleh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Dalam panduan kurikulum, setiap rujukan ke republik Irak atau Suriah harus diganti dengan “Negara Islam.”
Gambar-gambar dalam buku yang melanggar interpretasi Islam ultra-konservatif akan dirobek. Lagu kebangsaan dan lirik yang mendorong rasa cinta tanah air dianggap sebagai “hal musyrik dan menodai” agama, serta dilarang keras.
         Bisa ditebak, kurikulum baru juga tegas melarang teori evolusi Charles Darwin, meskipun teori ini sebelumnya juga tidak diajarkan di sekolah-sekolah di Irak.
          Dalam selebaran 5 September itu “Kalifah” al- Baghdadi juga menyerukan kelompok profesional di Irak dan di luar negeri untuk “mengajar dan melayani kaum Muslim agar bisa memajukan rakyat Negara Islam di bidang agama dan semua sains. "
           Pemisahan gender bukan hal baru di sekolah-sekolah Irak, di mana umumnya murid berusia 12 tahun dipisahkan menurut jenis kelamin. Namun di Mosul, panduan kurikulum ISIS mengatakan guru-guru juga harus dipisahkan. Guru laki-laki mengajar murid laki-laki, guru perempuan mengajar murid perempuan. Edaran kurikulum baru ini diakhiri dengan peringatan keras disertai ancaman.
“Pengumuman ini sifatnya mengikat. Siapa saja yang melanggar akan menghadapi hukuman,” bunyi selebaran itu.
        Di seluruh penjuru Irak, tahun ajaran baru diundur satu bulan karena banyak gedung sekolah telah diubah menjadi tempat penampungan pengungsi dari kota-kota yang direbut ISIS. Di Baghdad saja, 76 gedung sekolah menjadi tempat penampungan, ujar wanita itu.
         Menurut kantor berita The Associated Press, banyak murid di Mosul tidak datang ke sekolah pada permulaan tahun ajaran baru yang ditetapkan 9 September.
"Yang penting bagi kami sekarang adalah anak-anak terus mendapat pendidikan secara benar, bahkan meskipun mereka harus kehilangan satu tahun ajaran penuh dan juga tidak mendapat ijasah," kata seorang warga yang mengaku bernama Abu Hassan. Dia dan istrinya memilih melakukan home schooling untuk anak-anak mereka dengan mencari buku pustaka di pasar.

E.  Akibat Perang Di Irak
Departemen Pendidikan Irak mengeluarkan pernyataan bahwa hampir seperlima dari penduduk Irak mengalami buta huruf dan memiliki keterkaitan yang kuat dengan adanya kekerasan serta peningkatan yang luar biasa dalam jumlah penduduk yang mengalami putus sekolah.
Pernyataan resmi departemen pendidikan Irak terkait banyaknya buta huruf dari warga Irak bertepatan dengan pengumuman yang dikeluarkan oleh organisasi PBB yang memperkirakan bahwa seperlima dari orang dewasa Irak, yaitu antara usia 10 dan 49, tidak tahu cara membaca atau menulis.
Perang juga membuat sulit bagi pemerintah untuk menerapkan UU wajib pendidikan dan membuat para keluarga tidak bisa mengirimkan ank-anak mereka kesekolah atau menjadikan anak-anak mereka drop out sebelum menyelesaikan pendidikan dasar mereka. Ketidak setabilan politik negara tersebut telah menderita sejak tahun 2003, sehingga menyebabkan tidak adanya strategi pendidikan yang komprehensif dan kurangnya pendanaan yang tepat.
Sebelumnya pada pertengahan 1980-an Irak tercatat sebagai negara yang bebas buta huruf setelah pemerintah meluncurkan kampanye luas untuk menghilankan buta huruf. Tapi setelah tahun 2003 Irak mengalami kemunduran di bidang pendidikan setelah terjadinya perang dan warganya banyak yang buta huruf.











BAB III
KESIMPULAN
          Pendidikan di Irak mengalami kemunduran akibat perang yang sering terjadi di Irak. Seperti perang Teluk I dan II, dan juga akibat invasi besar-besaran oleh negara Amerika Serikat. Hal inilah yang melatar belakangi mundurnya pendidikan di Irak, karena banyak dari warga negara Irak mengalami buta huruf.
       Pemerintah Irak kesulitan untuk mengalokasikan dana pendidikan dan menerapkan UU wajib pendidikan akibat perang. Hal tersebut membuat para keluarga tidak bisa mengirimkan anak mereka ke sekolah karena membantu bekerja demi menghidupi keluarga mereka setelah mereka kehilangan segalanya dalam perang.















DAFTAR PUSTAKA
ð  http://www.beritasatu.com/dunia/210160-ini-kurikulum-sekolah-dari-isis.html

1 komentar:

Post a Comment

™Welcome to Bagu's08 Blog, Now Is Time To Be Smart™

Followers

Powered by Blogger.

Google+ Followers

Bagus

Bagus

Google+ Badge