Berwirausaha Secara Islami Menurut Perspektif Al-Qur'an dan Hadits

Monday, November 3, 2014

|
Berbisnis dengan Mengikuti Cara Rosululloh

Rosululloh SAW telah melakukan transaksi-transaksi perdagangannya secara jujur, adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau kecewa. Ia selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas sesuai permintaan pelanggan.
Reputasinya sebagai pedagang yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik sejak muda. Ia selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap transaksi yang dilakukan. Lebih dari itu, Muhammad juga meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi dagang secara adil. Kejujuran dan keterbukaan Muhammad dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan teladan abadi bagi para pengusaha generasi selanjutnya.
Ucapan-ucapan Nabi Muhammad berikut ini menjadi kaidah yang sangat berharga bagi para pekerja keras yang menjunjung tinggi kejujuran.
“Berusaha untuk mendapatkan penghasilan halal merupakan kewajiban, di samping sejumlah tugas lain yang telah diwajibkan”. (HR. Baihaqi dikutip dari Muhammad).
Tidak ada satupun makanan yang lebih baik daripada yang dimakan dari hasil keringat sendiri”.(HR. Bukhari dikutip dari Muhammad).
Wirausaha mencakup beberapa unsur penting yang satu dengan lainnya saling terkait, bersinergi, dan tidak terlepas satu sama lain, yaitu: (1) Unsur daya pikir (kognitif), (2) Unsur keterampilan (psokomotorik), (3) Unsur sikap mental (afektif), dan (4)Unsur kewaspadaan atau intuisi (Soesarsono, 1996).

1. Unsur Daya Pikir
Daya pikir, pengetahuan, kepandaian, intelektual, atau kongnitif mencirikan tingkat penalaran, taraf pemikiran yang dimiliki seseorang. Daya pikir adalah juga sumber dan awal kelahiran kreasi dan temuan baru serta yang terpenting ujung tombak kemajuan suatu umat. Dalam pandangan al-Baghdadi (1994), memang pemikiranlah yang secara sunatullah mampu membangkitkan suatu umat sebab potensi bangkit dimiliki manusia manapun secara universal.

اِنَّ اللّه لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَ نْفُسِهِم...... (الرّعد: اا)
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’d: 11)
Menurut Al-Baghdadi, ayat ini bersifat umum, yakni siapa saja dapat mencapai kemajuan dan kejayaan bila mereka telah mengubah sebab-sebab kemundurannya. Mengubah keadaan biar bangkit biasanya diawali dengan merumuskan konsepsi kebangkitan.
Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal manusia (dengan dalil aqli dan naqli-nya) dan menentramkan jiwa, menempatkan aktivitas pemikiran pada tataran yang istimewa., terlebih dalam proses pembentukan keimanan dan keyakinan seseorang. Imam Syafi’i dalam fikhul akbar, meyatakan:
“Ketahuilah, kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (muslim yang telah baligh sehingga diberi bebean (taklif) hukum atas setiap perbuatannya)adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah dan yang dengan itu dapat sampai kepada ma’rifat kepada hal-hal yang ghaib dari indra dan yang (ma’rifat itu) merupakan suatu keharusan. Hal itu merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin (pokok-pokok agama) berdasarkan firman Allah”
“Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah” (Al An'am: 99)
“Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (Al Hasyr: 2)
“ Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi”. (Yunus: 101).
Saya katakan bahwa kewajiban yang pertama berfikir karena sebagian besar dari ibadah adalah bergantung pada niat, sedangkan yang namanya niat itu adalah suatu maksud yang ditujukan untuk beribadah terhadap Zat yang disembah secara khusus. Maksud dalam bentuk semacam ini tidak mungkin dicapai kecuali sesudah tercapainya ma’rifat terhadap Zat yang ddisembah tersebut, sedangkan ma’rifat itu sendiri tidak mungkin tercapai kecuali dengan jalan berfikir dan pembuktian. Itulah sebabnya, mengapa saya mengatakan bahwa berfikir itu merupakan kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf.

2. Unsur Keterampilan
Mengandalkan berfikir saja belumlah cukup untuk dapat mewujudkan satu karya nyata. Karya hanya terwujud jika ada tindakan. Keterampilan merupakan tindakan raga untuk melakukan suatu kerja. Dari hasil kerja itulah baru dapat diwujudkan suatu karya, baik berupa produk ataupun jasa. Keterampilan dibutuhkan oleh siapa saja, termasuk kalangan pebisnis profesional.
Islam memberikan perhatian besar bagi pentingnya penguasaan keahlian atau keterampilan. Penguasaan yang serba material ini juga merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka melaksanakan tugasnya. Secara normatif, terdapat banyak nash dalam Al Quran dan hadis yang menganjurkan untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan umum dan keterampilan.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا 
 “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..” (Al Qashash: 77).
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ
 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang...” (Al Anfaal: 60).
“Hiasilah wanita-wanita kalian dengan ilmu tenun.” (HR. Al-Khatib dari Ibnu Abbas r.a.).
Juga firman Allah tentang Nabi Nuh a.s. dan Nabi Daud a.s.,
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلاَ تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ 
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”. (Huud: 37)
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَّكُمْ لِتُحْصِنَكُم مِّن بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنتُمْ شَاكِرُونَ
Dan Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (Al Anbiyaa': 80).

3. Unsur Sikap Mental Maju
Daya pikir dan keterampilan belumlah dapat menjamiin kesuksesan. Sukses hanya dapat diraih jika terjadi sinergi antara pemikiran, keterampilan, dan sikap mental maju. Sikap mental inilah yang dalam banyak hal justru menjadi penentu keberhasilan seseorang.
Jika dicemati, banyak pengusaha besar sukses ternyata hanya berlatar pendidikan sekolah menengah dan bahkan ada juga yang hanya lulusan SD (sekolah dasar), namun mereka banyak yang “SD” (Sinau Dhewe) alias belajar sendiri atau atodidak (soesarsono, 1996).
Bagi seorang muslim, sikap mental maju pada hakikatnya merupakan konsekwensi dari tauhid dan buah dari kemuslimannya dalam seluruh aktivitas pada pola berpikir (aqliyyah) dan pola bersikapnya (nafsiyyah) yang dilandaskan pada aqidah Islam. Di sini, tampak jelas bahwa sikap mental maju sesungguhnya adalah buah dari pola sikap yang didorong secara produktif oleh pola pikir islami.
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku menjadi akalnya yang ia berpikir dengannya.” (Hadits Qudsi)
Berikut ini adalah sejumlah sikap mental maju yang didorong oleh pola pikir yang Islami:
a.       Sigap, Cekatan, Langsung dikerjakan
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fushshilat: 33).
b. Tanggap dan aktif
“Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani dari Abu Dzarr al Ghifari).
c. Rajin, Telaten, Tekun

“Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat.” (Al-Hadits)

“Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 6).
d. Kerja lebih
e. Jujur dan Bertanggung Jawab
f. Disiplin
g. Teliti
h. Berjiwa Besar, Bersikap Wira

4. Unsur Intuisi
Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya ada faktor lain di samping pemikiran, keterampilan, dan sikap mental yang juga menentukan keberhasilan seseorang. Faktor itu tidak lain adalah intuisi atau kewaspadaan (Soesarsono, 1996). Intuisi atau juga dikenal sebagai feeling adalah sesuatu yang abstrak, sulit digambarkan, namun acapkali menjadi kenyataan jika dirasakan serta diyakini benar dan lalu diusahakan.
Dalam perspektif Islam, intuisi dapat dinilai sebagai bagian lanjut dari pemikiran dan sikap mental maju yang telah dimiliki seorang muslim. Seorang muslim memang dituntut untuk mengaplikasikam pemahaman Islam dalam menjalankan kegiatan hidupnya. Proses aplikasi ini dapat dilakukan diantaranya dengan cara menumbuhkan kesadaran dan melatih kepekaan perasaan.

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atas dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.” (Ali lmran: 191)

“Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Dan, barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka. " (HR Thabrani dari Abu Dzarr al-Ghifari)

Selain itu, intuisi juga dapat ditumbuhkan dari keadrengan (ketekunan dan kesabaran untuk jangka waktu yang panjang) dalam melakukan suatu pekerjaan disertai dengan selalu mengingat bahwa bekerja adalah juga manifestasi dari rasa syukur.











DAFTAR PUSTAKA

ð  Edy Purnomo, Makalah Berwirausaha Menurut Al-Qur’an,STAI Ma’arif Metro Lampung, 2009

0 komentar:

Post a Comment

™Welcome to Bagu's08 Blog, Now Is Time To Be Smart™

Followers

Powered by Blogger.

Google+ Followers

Bagus

Bagus

Google+ Badge