Sejarah Pengumpulan Al-Qur'an

Friday, April 26, 2013

|

BAB I
PENDAHULUAN
Pada  pembahasan  mengenai  Al-Qur’an  sangat  dirasakan  bagaikan  kekuatan  dari  atas  yang  sangat  kuat  menghujam  kebawah. Itu  disebabkan  karena  kedudukan  dan  keagungan   al-Qur’an  yang   pengajarannya  begitu  cepat  dapat  mengubah  kehidupan  manusia  yang   disebut  dengan  revolusi,  atau   yang   sering  kita  sebut  dengan  revolusi  moral.   Mengetahui  sejarah  turunnya  al-Qur’an  kepada  nabi  Muhammad,  bahwa  banyak sekali  pertentangan-pertentangan  yang  datang  untuk  merobohkan  keyakinan  umat  nabi  Muhammad  pada  saat  itu.  Pada  saat  turunnya  wahyu  pertama  yang  diturunkan  pada  saat  nabi  Muhammad  digua  hira’  yaitu  surat  Al-Iqro’  ayat  1  sampai  6,  bahwa   nabi  Muhammad  diperintahkan  untuk  membaca,   dan  beliau  pun   membacanya. 
Pada  saat  itu  banyak  sekali  penentang-penentang  nabi  Muhammad  yang  tidak  percaya  terhadap  apa  yang  telah  diturunkan  oleh  Allah  SWT  kepadanya.  Al-Quran  adalah  kalam  Alah  yang  sekaligus  mukjizat  yang  diturunkan  kepada  nabi  Muhammad  SAW  yang  sampai  kepada  umatnya  secara  al-tawatur  (langsung  dari  Rosul  kepada  umatnya).  Al-Qur’an  berada  tepat  dijantung  kepercayaan  muslim  dan  berbagai  pengalaman  keagamaannya.  Tanpa  pemahaman  yang  semestinya  terhadap  al-Qur’an ,  kehidupan  pemikiran  dan  kebudayaan  muslim  tentunya  akan  sulit  dipahami.  Oleh  karena  itu  kita  akan  membahas  sejarah  pengumpulan  Al-Qur’an  yang  sangat  banyak  problema  didalamnya.






BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian  Al-Qur’an
1. Secara Etimologi   (bahasa)
          Para  ulama  berbeda  pendapat  dalam  menjelaskan  kata  Al-Qur’an  antara  lain  sebagai  berikut  :
a.  Sebagian  dari  mereka,  di  antaranya  Al-Lihyani,  berkata  bahwa  kata  Al-Qur’an  merupakan  kata  jadian  dari  kata  dasar  qara’a  (membaca)  sebagaimana  kata  rujhan  dan  ghufron.  Kata  ini  kemudian  dijadikan  sebagai  nama  bagi  firman  Allah  yang  diturunkan  kepada  nabi  Muhammad  SAW.
b.                      Sebagian  juga  dari  mereka,  di  antaranya  Az-Zujaj,  menjelaskan  bahwa  kata  Al-Qur,an  merupakan  kata  sifat,  diambil  dari  kata  dasar  al-qar’  yang  artinya  menghimpun.  Kata  ini  kemudian  dijadikan  nama  bagi  firman  Allah  yang  diturunkan  kepada  nabi  Muhammad  yang  menghimpun  surat,  ayat,  kisah,  perintah,  dan  larangan,  atau  menghimpun  intisari  kitab-kitab  suci  sebelumnya.1)

2. Secara Terminologi
               Secara  istilah  Al-Qur’an  adalah  mukjizat  Islam  yang  kekal  dan  mukjizatnya  selalu  diperkuat  oleh  kemajuan  ilmu  pengetahuan.  Ia  diturun  kan Allah  kepada  Rasulullah,  Muhammad  SAW  untuk  mengeluarkan  manusia  dari  suasana  yang  gelap  menuju  yang  terang. 2)




B. Pengumpulan  Al-Qur’an  (Jam’  Al-Qur’an)
                 Pengumpulan  Al-Qur’an  mempunyai  dua  konotasi,  yaitu  konotasi  penghafalan  Al-Qur’an  dan  konotasi  penulisan  secara  keseluruhan.
1.          Proses  Penghapalan  Al-Qur’an
Rosulullah selalu merindukan wahyu dari Allah, sehingga ia selalu menghafal dan memahaminya dan beliau lah orang yang pertama menghafal dan memahami al-Qur’an atau sering disebut hafiz (penghafal). Kemudian para sahabat seperti  Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan banyak lagi sahabat-sahabat Rosulullah yang ikut mengafal al-Qur’an.
2.          Proses  Penulisan  Al-Qur’an
a.      Periode  Nabi  Muhammad
Nabi Muhammad menunjuk beberapa  sahabat  yang  pandai  baca  tulis  sebagai  penulis  wahyu,  antara  lain empat  sahabat  Nabi  yang  terkemuka  yang  kemudian setelah  nabi  wafat  menjadi Khalifah  (Abu Bakar, Umar ibn al-Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Talib), Mu’awiyah, Zaid bin Sabit, Ubai bin Ka’ab dan Khalid bin al-Walid.3)
b.    Periode Khalifah Abu Bakar
Setelah Nabi wafat dan Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah. Pada saat itu terjadilah clash fisik di Yamamah pada tahun 12 H yang menimblkan korban. Tidak sedikit kalangan pasukan Islam termasuk 70 sahabat yang hafiz al-Qur’an terbunuh sebagai shuhada’.
Peristiwa itu mendorong Umar untuk menyarankan kepada Khalifah agar segera dihimpun ayat-ayat al-Qur’an dalam mushaf/suhuf, karena dikhuwatirkan kehilangan sebagian al-Qur’an dengan wafatnya sebagian para penghafalnya. Dan setelah diadakan diskusi, maka diterimalah usulan Umar. Dan Khalifah Abu Bakar pun memerintahkan Zaid bin Shabit agar segera menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dalam satu mushaf/suhuf.3)
a.    Periode Usman bin Affan



 
Pada periode ini, Kholifah Usman bin Affan membentuk suatu panitia yang terdiri dari para ahli dan memerintahkan untuk melakukan pembukuan besar yang kemudian membawa nama kholifah tersebut. Panitia tersebut memeriksa dokumen yang dibuat oleh Abu Bakar dan yang dibuat oleh Umar kemudian disimpan oleh Hafsah (anak perempuan Umar bin Khatab). Kritik tentang autentisitas teks dilakukan secara ketat dan panitia berkonsultasi dengan orang yang hafal al-Qur’an.
Hal ini dilakukan karena Islam tersiar begitu cepat di daerah-daerah yang penduduknya tidak berbahasa Arab. Oleh karena itu perlu adanya tindakan-tindakan pengamanan untuk memelihara tersiarnya teks al-Qur’an dalam kemurnian aslinya.4)  
Panitia Zaid diperintahkan menyalin suhuf Hafsah kedalam mushaf dengan jumlah beberapa buah untuk dikirimkan ke beberapa daerah Islam disertai instruksi, bahwa semua suhuf dan mushaf al-Qur’an yang berbeda dengan mushaf Usman yang dikirim itu, harus dimusnahkan (dibakar) Alhamdulillah semua umat Islam termasuk para sahabat nabi menyambut dengan baik mushaf Usman itu dan mematuhi instruksi Khalifah dengan senang hati.5)




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
-       Wahyu Allah diturunkan pada nabi Muhammad, sebelum Beliau hijrah ke Madinah dan sesudah hijrah. Begitu juga dengan pembukuannya dilakukan semasa Nabi Muhammad masih hidup dan sesudah Beliau wafat.
-       Pembukuan al-Qur’an oleh juru tulis yang banyak, diantaranya yang termasyhur adalah Zaid bin Tsabit. Untuk pencatatan pertama, orang memakai bermacam-macam bahan seperti kulit, kayu, tulang unta, batu empuk yang ditatah dan lain-lain.
-       Selain dari penulisan, Nabi Muhammad menganjurkan supaya kaum muslimin menghafalkan al-Qur’an. Metode ganda untuk memelihara teks al-Qur’an yaknidengan mencatat dan menghafalkan adalah sangat berharga
Saran :
Kita sebagai umat Islam, marilah kita kaji al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Agar kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dan agar kita tahu bagai mana sejarah-sejarah al-Qur’an.









DAFTAR PUSTAKA
-       Ulumul Qur’an, Drs. Rosihon Anwar, M.Ag. Bandung, Pustaka Setia, 2000
-       Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Manna’ Khalil al-Qattan, Litera Antarnusa Pustaka Islamiyah
-       Ulumul Qur’an, Dra. Liliek Channa AW, M.Ag dan H.Syaiful HIdayat,Lc.,M. H, Surabaya, Kopertais IV Press, 2010
-       Ulumul Qur’an, Prof. Dr. H. Abdul Djalal H.A., Surabaya, Dunia Ilmu, cetakan 2, Januari 2000
-       Pengantar Ulumul Qur’an, Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, Surabaya, Karya Abditama, cetakan 5, 1997











0 komentar:

Post a Comment

™Welcome to Bagu's08 Blog, Now Is Time To Be Smart™

Followers

Powered by Blogger.

Google+ Followers

Bagus

Bagus

Google+ Badge